Sabtu, 27 Februari 2016

Nando Sang Bordes

Nando & Alang yang suka jalan-jalan ke Mall
Jika harus mengulik sejarah terealisasinya Dongeng Kopi menjadi sebuah kedai, maka saya harus berterimakasih kepada pemuda satu ini. Beliaulah yang memperkenalkan saya pertama kalinya dengan Alang Bhinantaka, seniman kopi handal yang mashur di Jogja saat saya masih menelisik teknik teknik meracik kopi dengan baik. Pada sekitaran tahun 2013, kala itu nando masih mengurus sebuah kedai di tepi selokan mataram. Sedang saya sedang menyicil mewujudkan konsep komunitas konsumen melalui kedai di bilangan seturan, sementara Alang saat itu menggarap sebuah kedai di jalan Mangkubumi, serta mengurusi ritel kopi di pasar Jogja melalui salah satu perusahan eksportir kopi terbesar di Indonesia.
Pertemuan saya pertama kali dengan Alang, sebenarnya berawal dari surhat saya pada nando, karib saya sejak SMA itu, menyoal bagaimana membikin kopi yang enak. Nando, kemudian berjanji untuk mengenalkan saya pada satu orang, yang ternyata adalah sesorang yang kemudian menjadi pilar penting berdirinya DKJ.
Setelah pertemuan singkat di sebuah sore menjelang petang tersebut, kami intim berjumpa. Alang kerap bertandang ke Seturan, dan saya sering memberikan kunjungan balasan ke Mangkubumi. Keinginan saya yang menggebu gebu soal kopi, membuat saya menempel pemuda kelahiran Solo ini tanpa henti. Bila tiada berjumpa, saya melempar tanya melalui perangkat gawai, bila bertatap muka maka saya memperhatikan secara seksama bagaimana ia membikin secangkir kopi.
Hingga Nando berhenti dari kedai di tepi selokan, melanjutkan studi, sampai merantau di Batavia, pertemanan saya dengan Alang menjelma menjadi lebih sekedar karib.
Nando tidak tahu bila perjumpaan yang ia tautkan pada satu waktu lampau, kemudian menghasilkan pertemuan pertemuan dan obrolan obrolan panjang yang akhirnya menjadi sebuah kedai yang menggabungkan gagasan kami berdua.
Dua kali kami berjumpa dengan Nando setelah itu. Pertama saat DKJ masih nyempil di dekat Pingit, yang kedua saat lebaran tahun kemarin.

Kemarin kami kembali berjumpa. Setelah dengan tiba-tiba Nando muncul di Gorongan. Menyambangi kami berdua dengan wajah sumringah dan menceritakan bahwa Sabtu ini ia akan melamar kekasihnya di Pekalongan 

Senin, 26 Oktober 2015

Baba Budan, Multatuli dan Secangkir Dongeng Kopi[1]


“Omne tulit punctum qui miacuit (Orang yang mencampur sesuatu yang berguna dengan sesuatu yang menyenangkan akan mendapatkan segalanya).”
Multatuli, Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company

Bila kita menyesap secangkir kopi, setidaknya kita harus berterimakasih kepada dua orang. Pertama kepada Baba Budan[3]. Selanjutnya kepada Multatuli. Mereka adalah orang paling berjasa hingga kita bisa menikmati ragam kopi yang luar biasa. Tanpa Baba Budan, barangkali kita tidak akan mengenal langgam single origin[4]. Tanpa Multatuli[5], barangkali politik etis tak pernah terjadi sehingga kita belum tentu bisa merdeka menikmati kopi sambil ngrasanin pemerintahan.
Baba Budan memotong ketergantungan kopi selama 500 tahun terhadap timur tengah, Multatuli memotong belenggu penindasan yang begitu mengakar di Hindia Belanda. Keduanya melakukan dengan hasrat sungguh-sungguh dan jauh dari pada mengejar keuntungan pribadi. Ada nurani yang menjadi landasan mereka bertindak.
Menjalani dengan Passion
Dongeng Kopi awalnya adalah akun social media yang berbagi soal cerita kopi. semula hanyalah akun twitter bernama @dongengkopi. Sejak Oktober 2012 @dongengkopi menyajikan cerita tentang kopi dan kejadian yang menyertainya. Setiap cerita yang menguap bersama secangkir kopi yang terhidang dikicaukan melalui akun ini. Sejak pancingan pertama, banyak orang mencuitkan kegiatan dan pengalaman ngopi mereka, termasuk puisi dan beberapa foto aktivitas ngopi. Interaksi yang mendalam muncul dari banyak orang di seluruh Indonesia. Selain berbalas cuit, mereka juga membagi referensi tentang kopi, mulai dari tautan blog, tempat ngopi yang asik, foto lokasi ngopi, hingga kegitan membuat kopi itu sendiri. Interaksi ini dengan sendirinya membentuk komunitas kopi di dunia maya.
Seiring bergulirnya waktu, beberapa netizen mengusulkan untuk membuat wadah kopi darat. Sehingga perjalanan @dongengkopi menjelma dari kopi maya ke kopi darat.  Butuh waktu dua tahun untuk usulan tersebut terealisasi. Tahun 2014, pada bulan Agustus Dongeng Kopi Jogja resmi berdiri, sebuah warung kopi komunitas yang menghimpun banyak orang, bukan hanya fokus pada aktivitas kopi, tapi juga diniatkan sebagai ruang edukasi dan interaksi komunitas di Jogja dan Indonesia
Pada Desember 2014, Dongeng Kopi Jogja dan Indie Book Corner bergabung menjadi Dongengkopi & Indiebook. Menyatukan gagasan edukasi di dunia perbukuan, kopi, komunitas dan ilmu pengetahuan lainnya, dua unit komunitas dan bisnis ini diniatkan menjadi pusat konsentrasi komunitas di Jogja. Dengan menggandeng seniman-seniman street art, tembok bangunan dijadikan alat kampanye kegiatan ngopi dan baca buku.
Ada berbagai kelas yang kami susun untuk menambah soft skill maupun pengetahuan juga wacana yang terintegrasi dengan berbagai komunitas di Jogjakarta. Diantaranya Kelas Menulis Freedom Writer bersama penulis penulis Indie Book Corner, Kelas puisi bersama penyair penyair muda, Kelas Jurnalistik bersama teman-teman persma, serta kelas Ngaji Kopi, Sekolah Barista, serta Kelas Cupping Kopi.
Ruang kami terbuka untuk seluruh organisasi, institusi maupun kelompok minat bakat yang hendak menggunakan ruang kami untuk pertemuan, diskusi maupun berbagai agenda yang terkait program kerja yang telah disusun utamanya untuk reproduksi pengetahuan, peningkatan skill dan wacana bagi kemajuan pemuda Indonesia.
Dengan beberapa fasilitas seperti Wifi dengan kecepatan 10 Megabita, Aneka literatur bacaan yang cukup komprehensif, LCD Proyektor, serta sound system pendukung acara yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan yang dilangsungkan. Beberapa hal yang sudah kami kembangkan di Dongeng Kopi adalah:
Coffeeshop/Kedai Kopi
Homebase Dongeng Kopi ada di Jl. Wahid Hasyim no 3 Gorongan Condong Catur Depok Sleman Jogjakarta. Gerai yang pertama ini dikenal dengan nama DKJ, merupakan kependekan dari Dongeng Kopi Jogja. Mengambil konsep 3rd wave Coffeshop, DKJ menyediakan berbagai fasilitas pendukung yang bermuara pada ragam pilihan menikmati kopi dengan berbagai cara. Menggunakan Mesin Simonelli Apia, serta mesin roasting Gene Cafe, berikut dengan seluruh perangkat alat manual brewing merupakan komitmen yang besar bagi DKJ untuk melakukan edukasi terhadap pengunjung serta aktif dalam kampanye #stopkopisobek.
Merchandise Coffee
Dalam kampanye brand identity suatu perusahaan atau produk, merchandise acap kali jadi metode efektif untuk dilakukan. Merchandise, termasuk dalam tipe Below The Line (BTL) advertising, yaitu upaya periklanan tanpa menggunakan media-media iklan konvesional, seperti media massa (e.g. televisi, radio, surat kabar, majalah dsb).
Permintaan yang cukup intensif dari pelanggan yang loyal, mengenai merchandise kemudian mendorong perusahaan untuk memproduksi merchandise secara massal yang merupakan pengembangan dari lini usaha baru. Pengalaman yang lebih dari dua tahun dari Perusahaan Homeland Creative sebagai perusahaan advertising menjadi faktor penting atas produk-produk yang dihasilkan.
Equipment/tool Coffee
Kesadaran akan bagaimana menikmati kopi dewasa ini semakin berkembang pesat. Konsumen sudah mulai ‘rewel’ dan cenderung memilih hendak diapakan serta kopi seperti apa yang akan ia nikmati saat bertandang di sebuah kedai. Konsumen semakin kritis dan ini merupakan buah edukasi pasar yang sudah dibangun semenjak boom kedai kopi pada tahun 2005 di Jogja.
Perkembangan kedai yang menjamur bak cendawan di musim penghujan merupakan potensi besar selain peningkatan kesadaran konsumen kopi di Jogjakarta dalam pengembangan lini perdagangan peralatan kopi. Jaringan suplier tools coffee yang dimiliki dongeng kopi merupakan keunggulan tersendiri untuk terlibat dalam melayani kebutuhan pelanggan akan berbagai peralatan dan perlengkapan kopi.
Roast Bean/Ground Bean
Pertumbuhan tingkat konsumsi kopi di Jogjakarta sangat menggembirakan bagi pelaku usaha kedai kopi. Kebiasaan minum kopi instant, seiring waktu sudah mulai ditinggalkan. Pasar mulai tersegmentasi menjadi banyak bagian, dan perkembangan konsumen kopi freshly brewed sangat menggembirakan. Jogjakarta sebagai tujuan wisata juga menjadi faktor lain atas pertumbuhan konsumsi kopi. Tingkat okupasi hotel, dapat dilihat di akhir pekan yang selalu sesak dipenuhi wisatawan dari berbagai penjuru. Tentunya hal ini tidak bisa diabaikan, sebagai pasar yang bisa kita garap.
Mobile Cafe: Kombikongo & Kopadja
Persaingan gerai coffeeshop merupakan dinamika yang terus berkembang pada saat ini. Keunggulan produk, lokasi, atmosfir gerai, serta berbagai pilihan promo, harga harus menjadi faktor pendukung untuk coffeshop melakukan penetrasi pasar, berkembang dan melakukan ekspansi yang bermuara pada peningkatan laba perusahaan.
Belanja iklan, flyering, berkampanye melalui buzzer, mensponsori sebuah acara, membeli halaman di media cetak, maupun memasang billboard di daerah tersibuk dan terpadat masih kurang efektif dan bahkan hanya membuang anggaran sia-sia tetapi hasilnya belum tentu maksimal. Maka guna menjawab persoalan mengenai kampanye brand, edukasi pasar secara mendalam, sekaligus menyisir konsumen baru,  Dongeng Kopi melakukan pengembangan dua armada bergerak sekaligus yaitu KOMBIKONGO dan KOPADJA.
1.         KOMBIKONGO
Merupakan kependekan dari Kombi Konco Ngopi. Kombi merupakan salah satu pelopor dari kargo dan penumpang van modern di dunia. Mobil pabrikan Jerman dengan merk dagang Volkswagen ini memiliki ruang yang lapang, elegan, classic dan selalu menjadi pusat perhatian dimanapun. Berbagai kelebihan tersebut menjadikan kami memilih kombi untuk dikawinkan sebagai tempat konco ngopi yang bergerak dimanapun, di berbagai penjuru mata angin area Jogjakarta.
2.         KOPADJA
Guna mengisi ruang kosong di jeda antar coffeeshop, Dongeng Kopi meluncurkan Kopi Patjal Djaja pada pertengahan bulan Desember 2013. Sama seperti Kombikongo, Pantjal Djaja mangkal layaknya pedagang kaki lima. Memberikan edukasi mengenai kopi, serta aktif dalam kampanye #StopKopiSobek. Kopadja dapat dijumpai saban minggu di Sunday Morning Jogjakarta, dan saban hari berkeliling di area Kampus UGM, UAJY, UPN, YKPN, dan UNY serta UIN Sukijo.
Consulting Development Product
Tim yang berdedikasi serta memiliki passion yang besar terhadap pekerjaan serta expert di bidang coffeeshop serta riteling product maupun kampanye product menjadikan kami sebagai salah satu Consultant dari berbagai perseorangan maupun instansi. Pengembangan Badan Usaha Milik daerah di salah satu Kabupaten di Lampung, pendampingan terhadap berbagai kelompok tani kopi di berbagai wilayah di Indonesia adalah salah satu rekam jejak kami yang terus menerus concern terhadap peningkatan kualitas kopi, dan visi kami untuk mewujudkan kopi berkualitas, murah untuk rakyat.
Dongeng Kopi Barista School
Guna memasyarakatkan profesi barista, sekaligus memuliakan kopi Indonesia yang luar biasa, secara rutin dan tentatif kami memnggelar kelas barista. Bersama tim yang berpengalaman lebih dari 10 tahun, kami menggelar kursus singkat untuk pemahaman tingkat awal, menengah dan lanjut hingga tingkat mahir.





[1] Disampaikan dalam Talk Show “Study & Practice: How to Turn Your Knowledge & Passion into Successfull’s Life” Selasa, 29 September 2015 di Ruang Seminar FISIP UPN Veteran Yogyakarta
[2] Juru cerita di Dongeng Kopi. Kernet di kombikongo, tukang pancal di Kopaja. Suka ngopi, suka ngopini. Bisa di kontak di renggodarsono@gmail.com  
[3] Seorang Sufi dari India yang pertama kali menyelundupkan kopi keluar dari Timur Tengah. Sepulang dari menunaikan ibadah haji di Mekkah, Baba Budan singgah ke Mocca, Yaman (1670). Sebanyak tujuh bibit kopi ia selundupkan dengan cara mengikat di perutnya, baba berhasil menanamnya di kampung halamannya. Sejak itulah pohon kopi tersebar ke seluruh dunia.
[4] Kopi original yang dihasilkan dari daerah tertentu tanpa adanya campuran dari kopi daerah lain (tanpa blend). Indonesia mendapatkan julukan sebagai surga kopi dunia pada pameran Specialty Coffee Association of America (SCAA) 2015 yang berlangsung di Seattle, Amerika Serikat setelah melihat 39 single origin kopi terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
[5]  Penulis buku berjudul Max Havelaar (1859) merupakan nama pena dari Eduard Douwes Dekker, seorang pegawai pemerintah yang kecewa di Hindia Belanda. Buku yang ia tulis berkisah mengenai penindasan pada petani kopi. Karyanya juga mendapat sebutan sebagai“buku yang membunuh kolonialisme”.

Minggu, 18 Oktober 2015

Dua Cangkir, Tiga Buku yang Selintas Diulas

Kita dipertemukan di sebuah kedai kopi pada tepian jalan sibuk Jogja. Kamu memesan secangkir teh, yang sama denganku. Tiga buku kamu ambil dari rak panjang depan bar. Percakapan mengalir deras membahas buku, mengangkangi penat awal pekan yang menjemukan. Kurcaci, kartu remi, dan Joker menjadi tema perbincangan menggantikan tema berat soal negara. Lalu berganti sajak-sajak jenaka Joko Pinurbo tentang celana, pacar kecilku di bawah kibaran sarung. Lantas topik soal Reborn. Buku yang sedikit berat mengenai studi kasus perusahaan konstruksi.
Kita tidak membicarakan soal isi buku tersebut. Tetapi malah berbual soal reborn; lahir kembali.
Kamu bilang, bahwa setiap orang punya kesempatan untuk bisa lahir kembali. Menjadi pribadi yang baru, atas refleksi yang dilalui. Aku lupa perbincangan berikutnya. Itu sudah lama sekali. Ingatanku rapuh untuk mengingat hal-hal detail. Aku hanya ingat hari ulang tahunmu. Tanggal 19 Oktober. Hari yang aku ingat sebagai hari lepasnya Timor Timur dari pangkuan Republik. Ini kali ke dua puluh tiga tahun tanggal menjelma menjadi angka baru. Meninggalkan dua puluh dua tahun yang begitu meruah kisah. Pahit, senang, sedih, gembira yang berbaur menjadi satu narasi sejarah hidup yang tak cukup diulas dalam satu cerita sekali duduk. Layaknya menunggang sampan, teruslah mengayuh hingga ke tepian dermaga pengharapan. Semoga kamu terlahir kembali menjadi perempuan yang berbeda dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Semoga.

Kamis, 03 September 2015

Sambangi DKJ, Cobain Kopi Kolombia Gratis


Beberapa kali Dongeng Kopi memang rutin melakukan edukasi soal kopi. Dengan tajuk 'kopikelana', kami berbagi kopi kepada setiap orang. Lembah UGM, selat sunda, Musium Beteng Vredeburg, pasar burung Ngawi, sudut seturan, pojokan prawirotaman, lapangan Pelabuhan Ketapang, di kelokan Gejayan, pada perayaan 17-an kampung, semuanya sudah pernah terealisasi. Kami mencoba konsisten dalam konteks kampanye #‎StopKopiSobek, sekaligus membangun kesadaran bahwa kopi Indonesia tidak sekadar berasa pahit.
Jika di 'luar pagar' kami menjalankan program kopi kelana, di DKJ program #‎MakeYourOwnCoffee masih terus berlangsung saban hari. Begitu buka pada pukul 08.00 WIB, kopilovers langsung tanggap bahwa pagi di DKJ adalah waktu bagi manual brewing. Seduh suka-suka bayar suka-suka. Percakapan intim berlangsung, silaturahmi menjadi erat.
Begitupun selepas pukul dua belas sampai dini pagi. Lumayan banyak dari kopilovers yang 'Nyanggongi' barista dan mengambil kursi di depan bar. Mengamati barista bekerja, dan bertanya apa saja mengenai kopi dan segala macamnya.
Kami sangat senang menjadi bagian keseharian dari kawan-kawan yang tak bisa lepas dari kafein saat beraktivitas. Kami sangat terhormat bisa berjabat erat dengan konsumen yang menjelma menjadi sahabat.

Beberapa waktu lalu, seorang kolega dari Dongengkopi & Indiebook berkesempatan singgah ke Kolombia. Sebagai ruang yang sering disinggahi selepas dari aktivitas padat, DKJ sudah dianggapnya sebagai rumah kedua. Tempat melepas lelah, tempat curhat tumpah, dan sekian rencana dicurahkan. kedekatan emosi yang sedemikian mendalam membentuk ingatan yang tak lekang tentang kami kemana saja ia bertandang. Banyak cerita yang sering dibagikan kepada kami setiap kali ia mampir. Semua tentang kopi. Tentang persinggahan di kota A yang mampir ngopi tapi kopinya kurang yahud, soal ia yang jatuh cinta dengan satu warung kopi di kota B yang tempatnya begitu mengesankan, dan seterusnya dan seterusnya. Minggu kemarin ia datang dengan wajah sumringah dengan tangan kanan menenteng green bean. Dari mulutnya berbuar cerita tentang oleh-oleh yang ia bawa. Ia ingin buah tangan yang dibawanya bisa diroasting dan dibagikan kepada segenap kopilovers. Karena jumlahnya yang tidak banyak maka kami sepakat untuk membagikan gratis kepada kopilovers yang bertandang setelah pesanan cangkir kedua single origin nusantara. Sepertinya memang semuanya serba kebetulan. Pertengahan bulan September ini adalah peringatan 3,5 dekade hubungan diplomatik antara Indonesia dan Kolombia. Mari menjajal kopi kolombia dan bandingkan rasanya dengan kopi nusantara

Senin, 16 Februari 2015

(dicari) guna mengisi barisan dkj

Dongeng Kopi sebagai salah satu kedai yang terintegrasi dengan penerbitan, ruang komunitas, dan juga edukasi kopi membutuhkan tenaga profesional, terdidik dan terlatih untuk bergabung bersama sebagai tim kerja guna mengisi posisi sebagai:
1. Barista (5)
2. Kitchen (3)
3. Server/waiters (4)
4. Office Boy (2)

Dengan syarat sebagai berikut:
1. Berpenampilan menarik (3)
2. Lulusan SMK atau sederajat/diutamakan berpengalaman di bidangnya (1,2,3) minimal SMP (4)
3. Komunikatif (1,2,3,4)
4. Berdedikasi terhadap pekerjaan, berintegritas, jujur dan disiplin

Bila anda termasuk dalam syarat tersebut diatas, silahkan untuk datang langsung guna walk interview di gerai kami Jl. Wahid Hasyim no. 3 Gorongan Condong Catur Depok Sleman (outlet biru ke utara satu kilometer) dengan membawa cv dan surat lamaran kerja. Walk interview kami nantikan hingga tanggal 23 Februari 2015.


Senin, 10 Februari 2014

Pada Secangkir Kopi Kamu Menggilirku

Aku menghabiskan kopi kesukaanmu lagi malam ini. Secangkir kopi Gayo yang sering kau pesan di kedai ini. Kedai favorit kita menghabiskan waktu di akhir pekan. Berharap bisa menghadirkan bayangmu yang kemarin, yang sekarang sudah menguap entah dimana. Pada setiap teguk, aku mereguk kenangan masa lalu. Kenangan tentang banyak hal yang sudah kita lalui bersama.
Terkadang, kita tak berpikir panjang. Dulu, saat usia kita masih jauh dari petang. Setiap lipatan waktu adalah mencipta cerita, mengubangi hal hal konyol yang membuatku menyungging senyum mengingatnya.
Saling membagi rahasia kecil, saling menyembunyikannya entah sampai kapan.
Bertukar tulisan, saling mengisi buku kecil yang berisi cerita kita, tentang apa yang kita rasakan saban hari atas sekeliling kita. Mendiskusikan buku yang selesai dikhatamkan, berdebat soal film sampai berjam-jam.

Tiap minggu selalu punya rencana baru. Menyusun agenda bareng seperti jalan-jalan, memasak dan berburu buku di loakan loakan antara Jogja-Solo, memunguti buku buku usang yang kadang lebih gampang dipahami daripada buku-buku sekarang.
Mendatangi ruang-ruang diskusi, mengunjungi tempat pameran di sudut-sudut kota, menyesap ilmu di tiap tempatnya.
Ah, kamu... Begitu manisnya cerita kita.
Begitu manisnya, hingga rasanya mengalahkan gula-gula terbaik dunia.
Cangkir kopi yang kusesap perlahan-lahan tandas bersama detik yang meranggas. Kenangan manis itu buyar tepat saat ponsel berdering minta ditempel ke dekat kuping. Sebuah telepon dari bos memaksa agar segera datang untuk tambahan pekerjaan yang menumpuk. Aku lupa mematikan ponsel. Seharusnya aku mematikannya sedari masuk kedai ini. Telepon barusan segera kuabaikan. aku tidak beranjak dari tempat semula. Memilih melanjutkan kenangan manis yang hinggap di tengah pengap lalu lalang kendaraan diluar kedai. Jalanan yang tak pernah lengang selama 24 Jam.

Dulu kita  selalu begadang hingga fajar memerah. Disini, di kedai yang selalu sesak oleh orang-orang yang membunuh waktu, menjemput pagi. Berbincang apa saja, menyala-nyala dan tak pernah tamat. Selalu bersambung di hari berikutnya. Seolah episode sinetron yang kejar setoran lantaran ratingnya terus menanjak. Selalu saja ada bahan obrolan karena sebelum masing masing kita pulang, ada gumpalan pertanyaan yang harus dicari jawabannya. Lalu begitu sampai rumah, acapkali masih juga bersahut-sahutan pesan singkat sampai salah satu dari kita tak menjawab. Terlelap.

Apa kabarmu hari ini? masihkah kau mencecap kopi yang sama?
masihkah kau melakukan hal yang sama dan tak kunjung bosan?

Aku masih sama. Melakukan hal-hal itu tanpamu. Sesekali dengan kawan kawanku, dan lebih sering sendiri. Bagiku, saat ini setiap kenangan selalu menyisa sesak diakhir lamunan. Pada setiap lamunan, selalu tersisip kamu di waktu yang kuhabiskan. Tiap akhir pekan masih saja selalu aku nantikan cerita kita di cerpen minggu, ataupun di blogmu. Tapi itu tak pernah ada. Bahkan di tiap twit dan update statusmu selalu aku nantikan berharap kamu menyeduh kenangan kita.
Tapi itu tak pernah ada. Barangkali, kamu telah menghapus ingatan tentang cerita kita yang begitu liar dan liat.
Bisa jadi, hari kemarin memang sudah tenggelam, padam bersama pilihan barumu. Bukankah kehidupan ini semua berubah? Kecuali, pilihan, prinsip yang akan selalu tetap menetap di ceruk terdalam masing-masing?
Ah sudahlah, ceracauku sampai sekian dulu. Kamu juga tak mungkin tahu bila kisah ini tentangmu.