Senin, 09 April 2012

Perempuan Kemarin di Sudut Lobi



“Satu kisah terpendam
Mengukir relung hati yang terdalam
Rinduku padanya
Mengendap, ikhlas, pagi, siang, malam”
          Dialog Dini Hari-Senandung Rindu-



Kami tidak sering berjumpa. Hanya selintas bincang, kemudian putus pada jadwal jam kuliah yang cepat menyudahi percakapan. Kawannya adalah salah satu perempuan yang sempat dekat denganku tatkala itu. Aku mengenalnya dari sang teman tersebut. Tidak banyak. Hanya cerita mengenai bahwa ia menggauli buku dengan sangat intim dan punya koleksi yang lumayan. Sesekali cerita yang kudapat adalah keterangan bahwa ia salah satu aktivis gerakan kiri yang direkrut dari kelompok diskusi perempuan. Dandanannya menyiratkan apa yang ia yakini.
Itulah kesimpulan pertamaku mengamati penampilannya pertama kali. Sangat casual. Kemeja flanel kotak-kotak, celana jeans belel gelap dilipat ke atas, sepatu canvas serta potongan cepak dengan poni disisir acak. Pertama kali kalimat yang terlontar saat sebentar kami melumat cakap adalah mengenai sekian aktivitas yang ia geluti. Meluncurlah banyak referensi yang sibuk dikutip dari buku buku yang ia keloni. Sesaat ia menjadi teman diskusi hangat yang kilat.
Momen itu terakhir kami berbincang panjang lebar. Setelahnya, aku hanya sering memperhatikan saat ia bersicepat memburu kelas-demi kelas untuk mereguk SKS yang berkejaran memipis hari demi hari. Kebanyakan ia habiskan kelas di lantai atas gedung kuliahku. Gedung Agus Salim. Seperti biasa, aku hanya menatapnya dari kejauhan, lantaran tidak tahu bagaimana akan memulai perbincangan lagi. Kesibukanku di organisasi mulai melunturkan kepercayaanku pada kuliah. Seringkali aku ke kampus hanya untuk berjualan buku di selasar lobi. Menggunakan megaphone, berteriak-teriak ala pedagang pasar malam, berjualan buku yang kudapat dari berbagai penerbit di Jogja. Semua yang kulakukan saat itu bersama kawan-kawan satu kontrakan adalah bagaimana bisa menggaet teman baru sekaligus juga menjaring rejeki untuk makan satu kontrakan.
Ia hanya menatap dari kejauhan begitu saat aku memanggilnya. Alasanku saat itu adalah supaya ia mampir, dan barangkali sudi membeli beberapa buku yang kami gelar diatas tikar pada lantai lobi.
Sepertinya waktu begitu berharga buatnya, hingga ia tak sempat untuk melihat judul demi judul yang kami bentang.
Sering kami hanya saling menyapa begitu saat ia memburu kelas, dan aku juga harus masuk ke dalam kelas. Tahun-tahun yang begitu mencuat di kepalaku saat itu. Masa-masa heroik dimana mencibir birokrasi kampus adalah keseharian kami.

Perjumpaan singkat itu masih kuat membenam di kepalaku. Perempuan manis yang gesit, lincah memburu kelas, hingga aku tidak pernah menjumpai lagi pada tahun-tahun setelah dua ribu sembilan. Saat itu aku berpikir barangkali ia sudah lulus, dan menekuni dunia barunya, mungkin pekerjaannya, atau mungkin ia sudah mengurusi suami dan anak-anaknya. Semua berlalu begitu cepat. Tidak ada yang berarti dari sebuah kehidupan yang perlu aku ceritakan. Menekuni aktivitas. Bergegas pada hari, memburu cumbu mentari saban hari dan berakhir pada catatan harian perjalanan waktu.

Tetapi, pada medio 2011 aku teringat dirinya secara tiba-tiba. Maka aku pun menuliskannya pada blog ini sebagai seseorang Puan yang aku tunggu saat ia turun dari tangga lantai atas. Saat itu, entah mengapa seketika aku ingat dia. Hanya saja kala itu keinginan untuk menuliskan tentang dirinya begitu mengemuka kuat hingga tertulislah beberapa bait puisi untuknya. Perempuan yang aku tunggu di sudut lobi.
Waktu berlalu dengan sekian cerita. Kami pun berjumpa kembali pada cerita yang berbeda. Selaksa kisah barangkali sudah kau cerap. Mungkin ribuan orang pun sudah saling kita temui. Perjumpaan kali ini tidak akan aku sia siakan untuk mendedah dari apa yang pernah kurasa. Perjumpaan nanti di pertengahan Mei, bila jadi. Aku menunggumu. 

2 komentar:

  1. bahasa sastraku berujar. engkau menikmati kegalauanmu. namun galau piluhmu itu pemantik semangatmu. kuharap. tegarmu. dan aku yakin dan mengerti kau adalah setegar batu karang di tengah badai air samudera.

    BalasHapus
  2. edaaan, edaaan, bahasane rek, marai galau!

    BalasHapus