Jumat, 19 Agustus 2011

Sepertiga Malam

Sepertiga malam yang memabukkan.
Karena aku terjaga mereguk nektar bayangmu. 
Sepertiga malam menjelang fajar menyingsing,
Singkaplah hatimu agar menjadi terang [padaku]...

Seandainya saja keberanian itu mampu dimuntahkan saat itu, barangkali tidak ada penyesalan mendalam dari keseharian Gaung  meniti hari. Kesalahan yang tak termaafkan atas sikap pengecutnya di masa lalu. Dipecundangi ketakutan, dikalahkan oleh kecilnya hati, minder tak ada rasa percaya diri yang kuat. Entah menguap begitu saja begitu sederet kalimat akan dia ungkap dihadapan Sekar Ungu; perempuan idamannya, kandas menjadi tapak yang tak berbekas.
"Tunggu aku di kotamu. Setelah purnama kedua ini usai,"
"Utarakan maksud hatimu agar menjadi terang padaku.." begitu balasnya dalam pesan pendek.
Gaung di atas angin.Ada kesempatan yang diberikan untuk menjelaskan perasaannya yang tumbuh berkecambah dan perlahan mulai beranjak menjadi besar. Berhari-hari ia menekuri kamus besar bahasa Indonesia, Membolak-balik kamus tesaurus guna memilih lema paling tepat agar kata-katanya tidak seperti lelaki kebanyakan saat menyatakan maksud hati kepada perempuan sanjungan hatinya. Tidurnya tak lagi nyenyak. Bila terbangun tiba-tiba sesegera  ia menatap kalender yang terpampang di dinding kamar.

"Ah, masih lama.. kapan kah tiba hari itu?"
Kalau sudah seperti itu ia susah kembali untuk melanjutkan tidurnya yang terpotong.
Demikian hal tersebut terjadi terus menerus hingga ia merampungkan satu jilid buku tulis tebal. Tiap kali ia sudah susah tidur, memang pelariannya tak lain adalah mengairi buku tulisnya dengan kata-kata. Tidak pernah ada tema yang ia khususkan saat menulis buku tersebut. Semua hanya ia biarkan mengalir begitu saja begitu ide terlintas tiba-tiba di kepalanya. Dua purnama berhasil ia lewati, dan patahan-patahan waktu itu menjelma menjadi buku tulis yang penuh menyaji ragam cerita. Dari kekuasaan yang tamak, ibu kos yang galak, hingga tema tentang makanan yang sering membuatnya tersedak. Walau demikian dominan paparan cerita masih seputar perasaannya yang sedemikian dalam.
Energinya seperti baterai yang penuh setelah dicharger, begitu menulis tentang si Sekar Ungu.Perempuan lucu dengan gigi serupa truwelu. Tentang kebiasaannya dulu saat menunggu di bawah tangga untuk sekedar
melihat ia datang ke pawiyatan, Sampai detail keretanya yang berwarna biru ia ceritakan dengan penuh antusias di tulisannya.
"Jadi sampai buku ini cetak kamu tak sempat mengutarakan isi hatimu ya?" 
pertanyaanku padanya sambil nggames kacang godog.
"Belum...belum sekalipun"
"Lalu, Apakah ia tahu perasaanmu?"
"Aku yakin ia tahu. Seperti pengetahuan dari tiap lelaki bahwa perempuan itu peka dan perasa..."
"hmmm..." sahutku masih dengan posisi yang sama. Bercangkung menguliti isi kacang godog, menyorongkan dari mulut ke kerongkongan dengan gerak peristaltik.
 "Esok adalah launching bukumu kan? kau membagi undangan padanya?"
"ya. semoga ia datang."
"Ya semoga kau mendapat sekeranjang kemenangan."

"Aku harus memulai kalimat apa ya, ?"
"Itu urusanmu Bung...hahaha" jawabku seraya mencomot sebatang samsu.



Sumber Gambar



2 komentar:

  1. super ! :)
    ketika sebuah canda rasa (cinta kata mereka) menghujam begitu tajam seperti busur panah menembus sepoynya angin zaman dan menembus ratusan titik cahaya. akan terasa sulit untuk diutarakan,muntahkan saja,buang saja isinya. biar semua orang tau tentang sebuah canda rasa.

    BalasHapus
  2. thx bung..sering2 bertandang ya :)

    BalasHapus