Selasa, 03 Mei 2011

Sajak Kota



Bergantilah wajah kami serupa kaum urban yang linglung di tengah himpitan gedung-gedung,
Bercucur keringat, bertabur debu polusi dari pantat-pantat metro mini
Bau apak saban hari menyepak kulit kami
Merubah detik-detik waktu jadi pengalaman-pengalaman tapak sepatu
Langkah kami menggusur gontai yang biasa terakrabi
Desak-desakan para pekerja di bis-bis, di angkot-angkot, di kereta listrik demi sesuap nasi yang segera surut bila terlambat menangkap.
Adalah kami, para perantau pengadu nasib, beradu cepat dengan trantib,
Berjibaku dengan SATPOL PP guna berseteru siapa salah-siapa benar
Keras kepala kami
Keras hati kami
Perginya rasa peduli
Adalah bentukan situasi saban hari disini
Tak ada senyum, 
Tak ada raut ceria karena kami sudah bertarung dari pagi

Bergumul panasnya kepala yang terus berputar seolah turbin tanpa henti
Rasa cemas kami mengalahkan segalanya.
Ketakutan hanya mengkerdilkan dan harus diusir segera bila mampir tiba-tiba
Kami petarung,
Tak boleh setengah hati menghajar hari,
Kami pendekar,
Tak boleh berhenti sebelum menang kami genggam rapat di tangan

Jakarta, 20 September 2010
Bidara Cina 18:30

gambar diambil dari sini

3 komentar:

  1. orang baca langsung tau ini renggo punya... get something new...

    BalasHapus
  2. oke... salam salim buat semuanya

    BalasHapus